Monday, 3 December 2012

0
Komen

Semuanya Lemah Di Atas Kekuasaan Allah


Kekuatan apapun yang dibangun oleh manusia, tidak akan mampu melawan kekuatan Allah. Sebagaimana kekuatan Teknologi yang dibangun Jepang, semuanya kecil di mata Allah. Satu kali hantaman tsunami, semuanya ambruk.

Begitulah gambaran yang terjadi pada peristiwa tsunami Jepang, Jum’at/ 11 Maret 2011 lalu. Tsunami terjadi akibat gempa berkekuatan 9 skala Richter. Saking hebatnya gempa tersebut, sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang rusak. Industri yang menjadi tulang punggung perekonomian ikut terganggu karena pasokan listriknya.

Tidak hanya itu, perumahan masyarakat juga kekurangan pasokan listrik. Sekitar kurang lebih 7.000 orang meninggal, dengan 10.000 orang hilang, dengan kerugian materi yang belum terkira jumlahnya. Di tambah lagi rasa trauma masyarakat terhadap bencana tsunami susulan.Kekhawatiran masyarakat bertambah akibat pusat nuklir Jepang yang sebagian terbakar, dan tidak bisa berfungsi sebagaimana biasanya. Hal ini, bisa menimbulkan bahaya lebih besar. Apabila tidak cepat berfungsi masyarakat akan kedinginan, bocoran gasnya akan menimbulkan penyakit.  Akibatnya, Jepang terancam ditinggalkan masyarakatnya, terutama negara asing yang selama ini mengadu nasib di Jepang.

Kekuatan Allah Tak Tertandingi

Begitu banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dari bencana Tsunami di Jepang. Jepang yang selama ini dianggap sebagai sebuah negara super power dalam bidang teknologi, ternyata tidak mampu menghadap kekuatan teknologi Allah ‘Azza wa Jalla. Meski kekuatan teknologi tersebut hanya berupa gempa dan aliran air.

Padahal, teknologi Jepang yang selama ini jadi kiblat teknologi dunia, selalu diagung-agungkan. Hampir semua jenis teknologi mutakhir ada di Jepang. Konon kabarnya, Jepang sudah memiliki gedung anti gempa, mempunyai alat pendeteksi gempa dan tsunami, serta berbagai teknologi lain seperti perangkat yang terpasang di dasar atau permukaan laut yang terkoneksi dengan satelit, serta adanya tembok beton pada 40% garis pantai Jepang, yang diyakini dapat menangkal berbagai bencana yang dapat membahayakan negara tersebut.

Namun, apa hendak dikata, ternyata teknologi yang canggih tersebut, tidak berdaya menghadapi hantaman gempa. Inilah bukti, bahwa teknologi jenis apapun buatan manusia, tidak mampu dan berdaya di atas kekuasaan Allah. Kekuatan teknologi yang dibuat manusia, bagaimanapun dashyat dan canggihnya, semuanya tak punya daya dan upaya dalam menahan kekuatan Allah. Mungkin, tak pernah dibayangkan dalam benak masyarakat Jepang, bahkan masyarakat dunia, apabila gedung-gedung, jalan-jalan, rel kereta, yang dibangun dengan teknologi super canggih, ternyata tak ada apa-apanya, dan bertekuk lutut, luluh lantak dengan kiriman Allah, hanya berupa gempa dan aliran air.

Gempa tsunami tersebut, sebagian kecil dari dasyatnya kekuatan dan kekuasaan Allah, yang akan diperlihatkan kepada manusia. Dalam al-Quran Allah berfirman (artinya), “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat [41]:53).

Jadi segala yang terjadi di dunia, semuanya berada dalam kehendak kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata, ‘ya, Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.” (QS. Ali Imran[3]:190-191).

Pada hakikatnya berbagai fenomena yang terjadi, baik berupa bencana, kejaiban dunia atau kebahagian sekalipun, semuanya bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Namun, oleh sebagian dari manusia, fenomena tersebut dianggap sebagai sebuah sunatullah biasa saja, yang tidak perlu direnungi, dan dijadikan sarana mendekatkan diri pada Allah.

Bahkan, sebagian besar dari manusia menyikapinya, dengan berbuat kemaksiatan, sombong dan takabur. Olehnya itu, Allah menurunkan bencana sebagai bahan teguran. Salah satu tujuannya, agar manusia mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai musibah yang terjadi disekelilingnya.

Makna Musibah

Sebenarnya musibah sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan manusia. Dia akan datang kapan dan di mana saja. Tak kenal siang tak kenal malam. Namun, yang terpenting dari semua itu, bagaimana mengambil hikmah dan pelajaran dari sebuah musibah yang datang silih berganti.

Bagi orang beriman, setiap musibah dapat dimaknai dalam tiga hal; 

  1. Sebagai cobaan.
  2. Sebagai peringatan dan penebus dosa bagi orang Islam yang bermaksiat.
  3. Sebagai hukuman dan siksaan bagi orang-orang zhalim.  


1) Sebagai cobaan.
Seorang muslim, yang taat akan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, musibah berarti sebuah cobaan. Tujuannya untuk mengetahui takaran dan nilai keimannya. Apakah betul beriman, atau keimananannya sebagai sandiwara saja.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi. Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29]:2-3).

Di ayat lain Allah juga berfirman:”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, ‘bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah[2]:214).

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala mempergilirkan bencana demi bencana kepada orang beriman. Sekali lagi tujuanya sebagai cobaan, dan menguji kadar keimanan seorang hamba. Sehingga, seorang muslim tidak boleh berputus asa dengan bencana. Sebaliknya, tetap menguatkan keimanannya, serta tetap menjalankan aktivitasnya sebagaimana mestinya.

2) Sebagai peringatan dan penebus dosa bagi orang Islam yang bermaksiat. 
Bencana yang menimpa seorang muslim, dapat berarti peringatan, serta penghapus dosa bagi orang Islam, yang kerap bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tujuannya supaya seorang hamba menyadari akan kesalahan dan dosanya.

Di dalam al-Quran disebutkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka (kembali) ke jalan yang benar.” (QS. Rum [30]:41). Ayat di atas dipertegas oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan, Allah menimpakan musibah kepadanya.”  (HR.Bukhari).

3) Sebagai hukuman dan siksaan bagi orang-orang zhalim.  
Bagi orang-orang kafir, atau orang-orang tidak mempedulikan berbagai peringatan, Allah pun menimpakan bencana sebagai hukuman dan siksaan bagi mereka. Allah berfirman: ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku kepada mereka perkataan (ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra[17]:16).

Hukuman dan siksaan Allah telah dipergilirkan kepada setiap kaum yang pernah ada di muka bumi ini. Di antaranya, kaum nabi Shalih yang diruntuhkan rumahnya. Kaum nabi Luth yang ditimpakan bencana berupa hujan batu. Kaum Fir’aun yang dikirimkan taufan, belalang, kutu, katak, serta air minum mereka berubah jadi darah.

Begitulah Allah akan terus mendatangkan bencana kepada hambaNya, yang memiliki arti dan pemaknaan yang berbeda, sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing. Bencana tersebut menunjukan akan kekuatan dan kekuasaan Allah terhadap manusia. Manusia yang ditimpakan bencana kepadanya adalah manusia-manusia super power, dengan berbagai kelebihan di zamannya.

Siapa yang tidak tahu kekuatan Fir’aun dengan kekuatan sihirnya, sampai-sampai mengaku sebagai Tuhan. Begitu juga dengan kekuatan teknologi yang dibangun AS, Jepang. Tapi, semuanya itu lemah, dan tidak ada apa-apanya di atas kekuatan dan kekuasaan Allah. Olehnya itu, sudah seharusnya setiap insan bersandar dan memohon pertolongan kepada Allah. Agar bisa selamat dunia dan akhirat.
 

0
Komen

Saatnya Membenahi Sistem Pendidikan

Salah satu karakteristik bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki SDM yang berkualitas. Kualitas SDM suatu bangsa banyak ditentukan dari kualitas sistem pendidikannya. 

Hal ini dapat dilihat pada beberapa negara di dunia. Misalnya saja Jepang. Pasca pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, Jepang negara yang sangat menderita dan terlantar. Tapi Jepang tidak putus asa dari keterpurukan. SDMnya dibenahi dengan mengirim generasi mudanya belajar ke luar negeri dan membenahi. Sekarang, Jepang menjadi negara maju dalam berbagai hal. 

Begitu juga dengan Malaysia. Dulu Malaysia menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam pendidikan. Malaysia mengeksport tenaga pengajar dari Indonesia. Mahasiswanya banyak dikirim ke Indonesia belajar dan menuntut ilmu. Hasilnya, Malaysia memiliki lembaga-lembaga pendidikan berkualitas. Sekarang berbanding terbalik, mahasiswa dari Indonesia dari berbagai jenjang banyak belajar di Malaysia.
Paradigma yang dibangun negara maju tersebut berbanding terbalik dengan Indonesia. Indonesia tidak mengutamakan pembangunan kualitas manusia. Indonesia mengutamakan pembangunan fisik, gedung mewah bertingkat dengan berbagai fasilitasnya, serta berbagai sarana prasarananya. Meski pembangunan tersebut menggunakan uang pinjaman berupa hutang dari negara lain.
Lebih dari itu,hutang tersebut yang diperuntukan untuk pembangunan, malah banyak dikorupsi oleh berbagai pihak. Bangunnnyapun cepat rusak. Belum selesai cicilan hutang, bangunannya sudah rusak. Indonesia terus dan terus berhutang. Hutang Indonesia sekarang sebesar 1320 trilyun. Sebagian pengamat berpendapat, sampai kiamatpun hutang Indonesia tidak akan bisa dibayar. Jika korupsi kian merajalela, sumber daya alam tidak dikelola negara, serta kualitas SDM. Salah satu langkah nyata dalam membenahi kualitas SDM, adalah membenahi sistem pendidikan, yang memiliki segudang problem.

Problem Sistem Pendidikan 

Berbicara tentang pembenahan kualitas SDM, maka tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kualitas sistem pendidikan. Hal ini sebenarnya menjadi dilema, karena justru persoalan pendidikan yang banyak diabaikan oleh pemerintah dari dulu hingga sekarang. Hampir tidak ada produk politik yang membenahi sistem pendidikan.

Meski anggaran 30 persen dari APBN, serta sekolah gratis tidak dinafihkan. Tapi kebijakan tersebut belum terlaksana secara maksimal karena persoalan birokrasi dan kecakapan pengambil kebijakan di daerah, serta disinyalir banyak bocor, dan disalahgunakan. Kebijakan tersebut juga belum menyentuh secara subtansial, dari persoalan pendidikan.

Menurut salah seorang pemerhati masalah pendidikan, M. Hasan Basri Ambarala, ada tiga hal problem pendidikan : Pertama, paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler dan materialistik sehingga tidak menghasilkan manusia yang berkualitas utuh, lahir dan batin. Kedua, semakin mahalnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun. Ketiga, rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan untuk bersaing secara global.

Selain ketiga persoalan di atas, menurut hemat Penulis problem pendidikan disebabkan pertama, sistem pendidikan banyak dipengaruhi oleh kebijakan politik yang berkuasa.Kedua, rendahnya kualitas guru akibatnya kesejahteraan yang rendah. Sehingga, guru banyak mencari kerja sampingan. Guru lalai dari tugas pokoknya yakni belajar untuk diajarkan siswanya, serta membuat perencanaan mengajar yang baik. ketiga, sarana prasarana yang kurang memadai. Kerap kita saksikan banyak sekolah yang tidak memadai tempatnya mengajarnya, tidak memiliki laboratorium, tidak memiliki perpustakaan. Bahkan banyak yang kekurangan guru.
PoliticalwillpemerintahBerbagai persoalan pendidikan di atas, tidak tinggal diam, berputus asa, dan tinggal berpangku tangan. Sebaliknya, problem-problem pendidikan tersebut harus segera dibenahi, dicari solusi terbaik agar sistem pendidikan dapat melahirkan SDM yang berkualitas.

Baik buruknya kualitas sistem pendidikan banyak ditentukan oleh political will pemerintah dari pusat sampai ke level yang terendah. Terutama dalam melahirkan kebijakan-kebijakan pendidikan secara komprehensif dan mengakar. Tidak setiap saat berubah, berganti rezim berganti pula kebijakan. Sehingga susah dijewantahkan oleh pelaku sistem pendidikan.

Sesungguhnya, kualitas dari sebuah produk sistem pendidikan, tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggaran 30 persen dari APBN. Meski, anggaran juga komponen yang sangat menentukan. Guru sebagai pelaku utama dari penerapan sistem pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.

Kualitasnya ditingkatkan dengan memberi ruang, waktu serta biaya untuk meningkatkan kapasitas, kualitas dan pengamalannya, dengan belajar, banyak mengikuti event-event, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tak kalah penting, adalah kesejahterannya, gajinya serta berbagai tunjangan-tunjangan, agar guru dapat fokus mengajar. Tidak mengambil kerja sampingan, sebagai tambahan penghasilan demi tuntutan ekonomi keluarga.

Begitu juga dengan sarana dan prasarana sekolah. Pemerintah harus membenahinya dengan memperbaiki gedung sekolah yang tidak layak pakai, serta menambah fasilitas sekolah. Tentu sangat miris mendengar dan membaca betapa banyak sekolah di Indonesia yang tidak layak pakai, fasilitasnya kurang, ditambah juga guru yang kurang, itupun kadang tidak masuk.

Tak penting lagi, adalah paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler.Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003  tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi.Semoga saja dengan political will pemerintah dengan berbagai kebijakan politik dapat segera menyelesaikan problem pendidikan, sebagaimana solusi yang ditawarkan. Sehingga, SDM Indonesia sejajar dengan SDM negara lain. Dengan demikian bangsa Indonesia dapat mengelola SDA sendiri, dipergunakan untuk kesejateraan rakyat.

0
Komen

Membangun Pendidikan Berkarakter yang Berbasis Islam

Sejak dicanangkan 2 Mei 2010 lalu oleh Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang bertepatan dengan hari pendidikan nasional, pendidikan berkarakter mulai gencar disosialisasikan. Presiden SBY mengajak semua pihak bergerak cepat dapat merealisasikan pendidikan berkarakter ini. Pertanyaan kemudian, 

Q1 : Apakah sistem pendidikan selama ini tidak berhasil membentuk manusia Indonesia seutuhnya? 

Q2 : Apakah sistem pendidikan berkarakter akan membentuk manusia seutuhnya?

Sejibun pertanyaan yang muncul, dengan munculnya gagasan pendidikan berkarakter, akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari penerapan sistem pendidikan berkarakter. Bahkan, ia akan menjadi bagian pro dan kontra dari sejumlah pihak terhadap pendidikan berkarakter.

Namun, terlepas dari semua ini. Lahirnya gagasan pendidikan berkarakter terlepas dari problematik yang terjadi dilingkup dunia pendidikan. Salah satunya, kian merosotnya moral anak didik. Seperti; tawuran antar pelajar dan mahasiswa, penggunaan narkoba, seks bebas.

Begitu juga dengan kasus bullyng di sekolah kini kian menjamur mulai dari siswa sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Misalnya saja pemukulan yang dilakukan senior terhadap yuniornya. Selain itu, tumbuh pesatnya jejaring sosial seperti; facebook, juga turut mewarnai dan memberi implikasi negatif terhadap perkembangan anak didik.

Meski tidak semua cerita kelam menyertai dinamika pendidikan nasional. Sejumlah prestasi yang dicapai anak didik di tingkat internasional. Namun, prestasi tersebut tenggelam di tengah gemuruhnya problematik pendidikan, yang selalu menghiasi media-media di Indonesia.

Solusi Efektif 

Olehnya itu, gagasan akan pendidikan karakter yang sudah dicanangkan Presiden SBY lebih satu tahun lalu. Adalah sebuah gagasan yang diharapkan menjadi solusi efektif dalam membenahi sistem pendidikan Indonesia. Kementerian pendidikan nasional yang digawangi Prof Dr Muh. Nuh akan menjadi motor gerakan pendidikan berkarakter secara nasional. 

Menurut Muh Nuh, sebagaimana yang dikutip dimajalahBaca, bahwa sekarang ini yang paling mendesak untuk dilakukan adalah pendidikan berkarakter. Lebih lanjut, Muh Nuh yang juga mantan menteri Menkominfo, menegaskan pentingnya pendidikan yang berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya.

Paling tidak, menurut Muh. Nuh, perlunya pendidikan berkarakter diterapkan, akibat karakter bangsa yang sangat merisaukan. Begitu banyak kasus yang terjadi diluar akal sehat bangsa Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi, yang melakukannya, adalah orang-orang yang berpendidikan.

Pendidikan berkarakter akan melahirkan bangsa yang unggul dalam berbagai dimensi. Keunggulan itu tercermin dari moral, etika, dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat , tekad dan energi yang kuat. Begitu juga dengan pikiran positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.

Jika, lembaga pendidikan melahirkan produk seperti di atas. Sejatinya akan melahirkan manusia-manusia Indonesia yang berkualitas. Sehingga, dapat bersaing dengan sumber daya manusia negara lain. Manusia-manusia seperti inilah yang akan menjadi tuan di negeri sendiri. Bukan menjadi budak dinegeri sendiri.

Sebagaimana yang diketahui selama ini, begitu banyak perusahan-perusahan besar di Indonesia dengan potensi sumber daya alam yang begitu besar. Tapi, tidak bisa berkonstribusi besar dalam  mensejahterakan rakyat akibat di kuasai oleh orang asing. Misalnya saja, tambang nikel yang dikuasai perusahan asing inco di Soroako, dan tambang emas yang dikuasai Freeport di Papua.

Tentu saja keberhasilan penerapan pendidikan karakter dengan output manusia yang berkualitas, berdaya saing tinggi. Patut mendapat support, dari semua elemen bangsa. Tak terkecuali masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Sebab, pendidikan berkarakter banyak mereduksi dari nilai-nilai ajaran Islam, yang menjadi tujuan pendidikan Islam.

Mereduksi Islam

Salah satu tujuan dari ajaran Islam, yakni melahirkan manusia-manusia yang berkarakter. Manusia yang tidak unggul secara kualitas yang berimplikasi akan prosfek hidup secara dunia semata. Tapi, manusia yang akan dilahirkan Islam manusia yang unggul dari dimensi spritual yaitu penghambaan satu-satu kepada Allah azza wajallah.

Tidak hanya itu, Islam menjadi landasan tegaknya sebuah peradaban Islam. Peradaban Islam dibangun atas pandangan bahwa Islam addin, adalah agama wahyu. Konsep Islam terbentuk dari rangkaian konsep-konsep pokok dalam Islam, seperti konsep ketuhanan, konsep kenabian, dan sebagainya.

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sebagaimana yang dikutip di buku Pendidikan Islam: Membentuk manusia berkarakter dan beradab oleh Dr. Adian Husaini,  Islam memiliki worldview yang berbeda dengan pandangan hidup agama/peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: [1] berdasarkan kepada wahyu; [2] tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya; [3] tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi; [4] mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat.
          Jadi, menurut al-Attas, pandangan alam Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (ru’yat al-Islam lil wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir.

Olehnya itu, apabila ingin menghasilkan hasil yang maksimal dalam penerapannya. Seyogyanya, penerapan pendidikan berkarakter mereduksi nilai-nilai ajaran Islam. Nilai-nilai ajaran Islamlah yang berhasil melahirkan manusia-manusia unggul paripurna yang berhasil peradaban yang tercatat dalam tinta sejarah emas.
 

Copyright© Hasil Nukilan : Burhanuddin